evynathyna

Just another WordPress.com site

8 januari 2012 January 8, 2012

Filed under: Uncategorized — evynathyna @ 10:11 pm

ntuk yang ketiga kalinya keluarga saya meninggal di bulan januari. Beberapa tahun yang lalu nenek saya meninggal tepat di awal tahun, pada hari sabtu yang lalu kakak sepupu saya kehilangan suaminya, dan semalan pada tanggal 8 januari 2011 kami kehilangan sosok ayah, kakak laki-laki ayah saya yang biasa saya panggil dengan sebutan Bapatua meninggal kurang-lebih pukul 9.30.
Tak ada firasat aneh yang kami rasakan. Kakak saya yang bernama indra yang merupakan anak dari Bapatua saya beserta keluarganya datang kerumah jam 6 sore. Kami tertawa dan bermain bersama anak kak indra, kemudia makan bersama. Saat kak indra akan pulang sekitar jam 9 kurang, ada telepon dari kak Yanti kalau Bapatua sakit. Tante dan Om saya beserta Kak Indra dan keluarga segera berangkat ke Rawa Lumbu untuk membawa Bapatua ke rumah sakit. Saya dan sepupu-sepupu saya tetap tinggal di rumah.
Kemudian setengah jam kemudian tante saya menelepon dan menyuruh kami segera ke rumah sakit. Kami segera bergegas untuk pergi. Beberapa menit kemudian tante saya menelepon lagi dan mengatakan bahwa Bapatua sudah meninggal. Semua orang terkejut mendengarnya. Sesampainya di rumah sakit kami belum sempat melihat mayat Bapatua. Kami disuruh pergi ke rumah Bapatua untuk membereskan rumah agar saat mayat dibawa rumah sudah rapi. Saya dan sepupu saya plang jam 12 tengah malam. Tante dan Om saya masih berada di rumah sakit. Mereka akan pulang apabila jenazah di bawa pulang ke rumah.
Bapatua memang setahun belakangan mengalami stroke. Awalnya pada tahun 2010 yang lalu gula darahnya sangat tinggi, kemudian dilarikan ke rumah sakit. Waktu itu belia sempat tidak ada respon apabila kami sapa. Lambat laun beliau bisa berinteraksi, namun tidak lancar ketika berbicara. Bagian tubuhnya sebelah kiri tidak bisa digerakkan. Jadi, selama setahun ini beliau sering mengikuti terapi untuk kesembuhannya.
Tanggal 1 januari yang lalu kami sekeluarga pergi bertahun baru ke rumahnya. Saat kami sampai, kami melihat kakinya sudah bengkak dan tidak mau makan. Kami berusaha agar beliau mau makan. Setelah berbincang-bincang selama 2 jam kami pulang dan bertahun baru ke tempat lainnya.
Tak seorangpun manyangkan Bapatua akan pergi secepat ini. Tapi semua indah pada waktunya. Penderitaan Bapatua selama setahun ini telah hilang dan sekarang beliau telah tenang. Dari tanah kembali ke tanah. Selamat jalan Bapatua. Selamat menanti di peristirahatan terakhir hingga nanti Yesus datang yang kedua kalinya, dan kita akan bertemu kembali di kerajaan Sorga yang abadi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s